Militer Israel Kocar-kacir! Tentara Cadangan Kabur Massal Tolak Rencana Pendudukan Gaza
Rencana militer Israel untuk menduduki kota Gaza menghadapi hambatan serius, ada beberapa penolakan dari dalam militer.
Penulis: Farrah Putri Affifah
Editor: Tiara Shelavie

TRIBUNNEWS.COM - Rencana militer Israel untuk menduduki kota Gaza menghadapi hambatan serius.
Semakin banyak tentara cadangan menolak melapor tugas dengan alasan kelelahan fisik dan mental setelah hampir dua tahun konflik berkepanjangan yang menyisakan luka mendalam bagi banyak pihak, terutama warga Palestina.
The New York Times melaporkan penolakan ini mencerminkan krisis moral dan psikologis yang tengah melanda militer Israel.
Konflik Israel-Gaza yang terus berlanjut bermula dari ketegangan yang sudah berlangsung puluhan tahun antara Israel dan kelompok Hamas yang menguasai Gaza.
Pada Oktober 2023, Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza hingga menewaskan ribuan warga Palestina.
Kini, Israel berencana melakukan pendudukan penuh Kota Gaza, salah satu daerah paling padat penduduk di dunia, dengan rencana memindahkan sekitar satu juta warga Palestina ke wilayah selatan yang sudah sesak dan penuh penderitaan.
Pada 8 Agustus, Kabinet Kemanan Israel menyetujui rencana ini, yang mencakup pengepungan kota Gaza dan invasi darat setelah serangan udara yang masif.
Mengutip dari Anadolu Ajansi, Israel berupaya memobilisasi 60.000 tentara cadangan tambahan, sekaligus memperpanjang masa tugas 20.000 prajurit lain, demi mendukung rencana ini.
Namun, para pejabat militer Israel menghadapi dilema serius karena jumlah tentara cadangan yang benar-benar melapor bertugas terus menurun drastis dalam beberapa bulan terakhir.
Sejumlah perwira dan prajurit melaporkan unit-unit mereka yang menyusut akibat penolakan anggota cadangan.
Ada yang menyebut hingga 40-50 persen prajurit cadangan tidak hadir saat dipanggil.
Contohnya, satu kompi yang awalnya berjumlah 100 orang kini hanya tersisa 60 orang aktif.
Baca juga: Terungkap, Taktik Tekanan ke ICC Terkait Kasus Israel: Intervensi AS dan Barat Sangat Kuat
Sementara tim infanteri lain hanya setengahnya yang merespons panggilan tugas.
Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir bahkan dikabarkan keberatan dengan keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang ingin memperluas serangan di Gaza, khawatir dengan kesiapan pasukan cadangan.
Tekanan psikologis dan sosial akibat perang berkepanjangan membuat banyak prajurit cadangan merasakan kelelahan mendalam.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.