Australia Usir Dubes Iran usai Serangan Anti-Yahudi Tahun Lalu, Teheran Janjikan Pembalasan
Australia usir Dubes Iran Ahmad Sadeghi terkait serangan anti-Yahudi. Teheran tolak tuduhan dan janji balasan diplomatik.
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Bobby Wiratama

TRIBUNNEWS.COM - Australia mengusir Duta Besar Iran, Ahmad Sadeghi dan tiga pejabat lainnya setelah menuduh Teheran berada di balik serangan anti-Yahudi di Sydney dan Melbourne.
Teheran membantah keras tuduhan tersebut dan berjanji akan memberikan respons timbal balik.
Menteri Luar Negeri Penny Wong menegaskan pengusiran ini menandai pertama kalinya Australia mengusir seorang duta besar sejak Perang Dunia II.
Sejak pecahnya perang Israel–Gaza pada Oktober 2023, berbagai rumah, sekolah, sinagoga, hingga kendaraan di Australia menjadi target vandalisme dan pembakaran bermotif antisemit.
“Tindakan ini bukan hal yang kami ambil dengan mudah,” ujarnya, dikutip Al Jazeera (26/8/2025).
Selain itu, Canberra juga menarik duta besarnya dari Teheran dan menangguhkan operasi di Kedutaan Besar Australia di Iran yang telah berdiri sejak 1968.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa Iran terlibat dalam dua serangan antisemit yang mengguncang Australia pada akhir 2024: pembakaran Lewis Continental Café di Sydney dan serangan terhadap Sinagoge Adass Israel di Melbourne.
Lewis Continental Café, sebuah deli kosher yang melayani komunitas Yahudi, terbakar sekitar pukul 04.00 pagi, Minggu (20/10/2025) di kawasan North Bondi, Sydney.
Menurut laporan Daily Mail Australia, polisi menemukan dan mengamankan jeriken di lokasi kejadian, memicu dugaan bahwa kebakaran tersebut dilakukan secara sengaja.
Beberapa minggu kemudian, pada Jumat (6/12/2024), dua pria bertopeng terlihat menyebarkan bahan bakar di dalam gedung Sinagoge Adass Israel di Melbourne sebelum membakarnya.
Insiden ini terjadi sekitar pukul 04.10 pagi dan langsung memicu kecaman luas.
Menanggapi kedua serangan tersebut, Albanese mengutuk keras aksi pembakaran itu, menyebutnya sebagai bentuk antisemitisme yang terang-terangan.
“Kekerasan dan intimidasi serta penghancuran terhadap tempat ibadah adalah kebiadaban,” kata Albanese.
Tidak ada korban jiwa, namun kerusakan properti cukup parah.
“Kami tidak akan menoleransi tindakan teror semacam ini,” kata Albanese pada Selasa (26/8/2025).
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.